Pengalaman Berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

masjid raya sheikh zayed solo
Depan gerbang masuk. Foto milik jalansitu.com.

Pada akhir Januari 2025 kami berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed di Solo, Jawa Tengah. Masjid belum terlalu lama diresmikan, yaitu pada tanggal 14 November 2022. Masjid yang megah ini menimbulkan kehebohan di Jawa Tengah sehingga orang berbondong-bondong ingin melihatnya, termasuk eyang kami dan grup mengajinya. Saking ramainya, orang-orang mengatakan bahwa dia harus parkir sangat jauh lalu naik angkot ke lokasi masjid.

Sebenarnya kami tidak memiliki rencana untuk datang ke masjid ini. Kami hanya ingin menjajal jalan tol yang baru dari Jogja ke Solo, makan di Restoran Kusumasari langganan kami, lalu balik ke Jogja. Tapi setelah melihat peta, ternyata letak masjid tidak jauh dari Kusumasari. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir ke Masjid Zayed, dengan perjanjian kalau terlalu ramai, kami hanya akan lewat saja.

Perjalanan ke Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

masjid raya sheikh zayed solo
Selasar. Foto milik jalansitu.com.

Restoran Kusumasari terletak di Jalan Slamet Riyadi, jalan protokol di Solo. Sedangkan Masjid Zayed terletak di Jl. A Yani. Kalau di peta jarak keduanya sekitar 3 km. Untuk ke lokasi kami mengandalkan Google Map karena penunjuk jalan baru muncul ketika sudah dekat dengan lokasi. Harusnya namanya ikon kota, ada penunjuk arah, seperti Malioboro yang sudah ada penunjuk arah sejak perbatasan provinsi DIY.

Karena sama-sama menggunakan nama jalan pahlawan, kami pikir sama-sama jalan besar. Ternyata sama Google Map dilewatkan perkampungan-perkampungan dengan jalan yang sempit. Berhubung sudah sering diajak blusukan Google Map, kami sih tenang saja. Apalagi di sepanjang jalan itu kami lihat kantong-kantong parkir. Jadi kami sedikit tenang karena kalau misalnya sampai papasan dengan mobil lain, pasti warga sudah terbiasa mengaturnya. 

Kalau dilihat sih kantong-kantong parkir tersebut memang benar jauh banget dari lokasi masjid. Tapi selama kami lewat tidak ada yang menawarkan parkir, mungkin karena sepi sehingga membiarkan kami parkir dekat masjid. Bagus sih ini. Kalau di Jogja tidak peduli ya, meski masih jauh dari lokasi tetap dibujuk parkir di jatah orang tersebut. 

Alhamdulillah kami bisa parkir dekat dengan pintu masuk. Hanya ada 2 mobil pribadi saja di depan kami. Mungkin karena kami datang di hari kerja jadi sepi, tidak ada bus pariwisata sama sekali.

Suasana Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

masjid raya sheikh zayed solo
Halaman tengah. Foto milik jalansitu.com.

Begitu turun dari mobil banyak ibu-ibu yang menawarkan tas plastik atau kresek untuk tempat sandal atau sepatu. Berhubung kami terbiasa bawa totebag kemana-mana jadi kami tidak membelinya. Di sini memang tidak ada penitipan sepatu seperti di Mekah dan Madinah, jadi sepatu dicopot lalu dimasukkan ke dalam tas sebelum memasuki masjid. Mungkin kalau pas ramai akan kewalahan petugas penitipan sepatunya sehingga ditiadakan.

Kebetulan waktu kami di sana memang sepi, hanya ada beberapa keluarga saja. Anak-anak bermain sewajarnya, paling-paling berlarian. Mereka tidak sampai mengaduk-aduk kolam seperti yang viral di masjid lain. Di dalam ruangan salat wanita hanya ada 2 saf, sedangkan ruangan pria hanya ada 1 saf. Kami sempat ikut salat asar berjamaah.

Untuk penjagaan hanya dilakukan di gerbang luar dan di depan pintu ruangan salat wanita. Enggak tahu juga mengapa banyak petugas perempuan yang berdiri di depan ruang salat wanita padahal jemaahnya sedikit.

Ruangan-ruangan di Masjid Raya Syeikh Zayed Solo

masjid raya sheikh zayed solo
Ruang salat wanita. Foto milik jalansitu.com.

Dikutip dari laman Kemenang, masjid ini replika dari Sheik Zayed Grand Mosque di Abu Dhabi, UEA (Uni Emirate Arab) karena merupakan hadiah dari Presiden UEA untuk rakyat Indonesia. Bedanya di Abu Dhabi tidak ada kotak infak, sedangkan di Solo ada, karena pemerintah UEA berpendapat bahwa masjid itu memberi, bukan menerima.

Masjid ini terdiri dari bangunan 2 lantai, 4 menara, 1 kubah utama dan 82 kubah kecil. Bangunan yang berlapiskan marmer putih dengan aksen warna emas ini mampu menampung 15.000 jemaah.

Dari gerbang masuk, pengunjung akan mendapatkan halaman yang bersih dan tertata rapi. Di halaman tersebut ada kolam, bendera Indonesia, bendera Palestina dan taman. Kemudian pengunjung dapat menyeberangi selasar untuk menuju halaman tengah yang terbuka. Jangan lupa melepas sepatu, ya. Dari sini jemaah pria masuk ke ruang salat dari sisi kiri, sedangka wanita dari sisi kanan.

Untuk ambil wudhu, jemaah harus turun ke lantai bawah. Untuk lansia, anak-anak dan ibu hamil bisa menggunakan lift. Kebetulan waktu itu di mamah pakai lift. Toilet dan tempat wudhu bersih dan dihiasi lampu-lampu seperti di toilet mall di Jakarta. 

Tepat di depan pintu masuk ke ruang salat wanita terdapat mushaf akbar, buatan Universitas Sains Al-Qur'an (Unsiq) Wonosobo. Dalam kondisi terbuka, ukuran mushaf 3x2 meter, sedangkan dalam kondisi tertutup ukurannya menjadi 1,5x2 meter. Beratnya luar biasa, yaitu 501 kilogram.

Di ruang salat wanita ada mukena, Al-Qur'an, dan meja untuk membaca Al-Qur'an. Lengkap, tapi khusus untuk mukena, sebaiknya membawa sendiri jika musim liburan. Yang unik di sini adalah karpet dengan motif batik.

Untuk jalur keluar, pengunjung akan melihat maket masjid dan kolam kecil di bagian luar. Untuk biaya parkir mobil Rp10.000. Di sekitar tempat parkir ada warung-warung tapi kami tidak jajan karena baru saja makan sehingga tidak bisa memberikan informasi.

Demikian pengalaman kami berkunjung ke Masjid Raya Sheikh Zayed. Untuk melihat gambar yang lebih baik, silakan visit dan follow akun Instagram @jalansitu. Semoga informasinya bermanfaat. Mohon maaf jika banyak kekurangan.

Baca juga: Naik Bus Werkudara Solo

Post a Comment

0 Comments